February 07, 2020

Ulasan Film "Pemburu Di Manchester Biru": Sepakbola Tak Melulu Teknis Di Lapangan!

Film dengan latar belakang di negeri orang bukan barang baru di Indonesia. Tentu, pemandangan yang tersaji idealnya bakal lebih segar.

Meski begitu, tidak serta merta faktor tersebut dapat menarik penonton, jika tidak dibarengi paket cerita yang menarik.

Terbaru, film berjudul “Pemburu di Manchester Biru” terbilang mampu mengimbangi dua hal tersebut. Syuting di Inggris, namun menawarkan ide cerita yang dekat dengan kebanyakan orang di Indonesia.

Diadaptasi dari novel non-fiksi karya Hanif Thamrin dengan judul yang sama, potret kehidupan Hanif—yang sekaligus menjadi tokoh utama—terfilmkan dengan oke oleh sutradara Rako Prijanto.

Sulit juga untuk tidak memuji Titien Wattimena sebagai penulis naskah. Sentuhannya yang subtil sekalipun sangat terasa dalam pengembangan cerita.

Belum lagi efek Batara Goempar sebagai pengarah sinematografi. Aman dikatakan, dia sukses membuat penonton minimal mulai mengecek harga tiket ke Inggris.

Secara garis besar, film bergenre biopik ini menggambarkan sekelumit kisah Hanif. Mulai dari kehidupan pekerjaan, keluarga, hingga persahabatan dengan Pringga, sohib kentalnya.

Pada periode 2014-2016, Hanif  memang resmi bergabung dengan klub papan atas Liga Primer Inggris, Manchester City. Tentu, bukan untuk diplot sebagai duet Sergio Aguero di lini ofensif, melainkan berperan dari balik layar sebagai ujung tombak pemberitaan klub.

Begitu secuil kisah mula penamaan “Pemburu di Manchester Biru” sebagai judul novel. Nomina “Pemburu” diasosiasikan dengan Hanif yang ditugaskan menggali berita penting dan menarik dari internal klub, sementara “Manchester Biru” selama ini memang identik dengan warna kebesaran Manchester City.

Karakter Hanif diperankan dengan aman oleh Adipati Dolken. Maklum, nama terakhir boleh dibilang sudah terbiasa memerankan karakter tokoh, sebut saja saat rolnya di film Sang Kiai, Jenderal Soedirman, hingga Teman Tapi Menikah.

“Jika selama ini kamera menyorot lapangan dimana tekel berterbangan dan gol tercipta, kini kamera diputar ke pinggir lapangan untuk menangkap momen di balik layar seperti apa sih klub besar Inggris bekerja,” ucap Adipati.

Sementara karakter sang sahabat, Pringga, dimainkan dengan apik oleh Ganindra Bimo. Selalu. Tengok saja perannya di film “Jakarta Undercover”. Top!

Khusus yang doyan sepakbola atau yang mau menjajal sebagai jurnalis atau yang sudah berkecimpung di dunia media, film ini rasa-rasanya akan sangat terasa berhubungan.

Budaya kerja orang Inggris yang dingin terasa di film ini. Tetapi, bagian tersebut sukses dihangatkan oleh karakter Les “Chappy” Chapman, legenda yang sampai saat ini masih berbakti untuk klub.

Ya, sepakbola kembali menjadi pintu masuk sebuah karya film dibuat. Sebelumnya yang sudah ada, antara lain: Romeo Juliet (2009), Garuda di Dadaku (2009), Hari Ini Pasti Menang (2012), hingga Cahaya dari Timur (2014) lebih dulu mewarnai kancah layar lebar Indonesia.

Tidak melulu soal teknis di lapangan memang. Tetapi, dibalut dengan isu sosial. Per 6 Februari 2020, “Pemburu di Manchester Biru” hadir dengan perspektif lainnya yang terbilang lebih ringan. Satu-satunya hal yang agak disayangkan dari rilis film ini adalah City baru kalah 2-0 dari Tottenham Hotspur, akhir pekan lalu…